Review Makna Lagu Runtuh: Kerapuhan Jiwa di Saat Kesedihan. Lagu Runtuh yang dinyanyikan Feby Putri featuring Fiersa Besari sejak dirilis pada 2021 langsung menjadi salah satu lagu paling dibicarakan. Melalui aransemen sederhana tapi menyentuh, lagu ini menggali sisi paling rapuh manusia: saat jiwa benar-benar runtuh di tengah kesedihan yang tak bisa lagi disembunyikan. Bukan sekadar lagu galau biasa, Runtuh justru jadi pengingat bahwa pura-pura kuat kadang lebih melelahkan daripada mengakui luka. Liriknya yang puitis berhasil menangkap perasaan banyak orang yang terpaksa tersenyum di depan orang lain sementara di dalam hati sudah hancur berkeping-keping. REVIEW KOMIK
Lirik yang Langsung Menyentuh: Review Makna Lagu Runtuh: Kerapuhan Jiwa di Saat Kesedihan
Bagian paling ikonik adalah refrain yang berulang: “Tak perlu khawatir ku hanya terluka / Terbiasa tuk pura-pura tertawa / Namun bolehkah sekali saja ku menangis / Sebelum kembali membohongi diri.”
Lirik ini langsung menggambarkan kondisi seseorang yang sudah terlalu sering menutup-nutupi kesedihan. Ada juga baris “Ketika mereka meminta tawa / Ternyata rela tak semudah kata” yang jadi sindiran halus bagi orang-orang di sekitar yang cuma bilang “senyum dong” atau “syukuri saja”. Padahal, merelakan dan kembali bahagia bukan proses yang instan. Lagu ditutup dengan kalimat penuh harapan: “Ku ingin belajar menerima diri.” Dari yang tadinya membohongi diri sendiri, akhirnya ada keinginan untuk memeluk kerapuhan itu.
Pura-Pura Bahagia yang Melelahkan: Review Makna Lagu Runtuh: Kerapuhan Jiwa di Saat Kesedihan
Salah satu kekuatan Runtuh adalah cara ia mengungkapkan tekanan sosial untuk selalu terlihat baik-baik saja. Banyak orang merasa harus tertawa keras padahal di dalam dada rasanya kosong. “Kita hanyalah manusia yang terluka” jadi pengakuan yang melegakan. Lagu ini seolah bilang: tidak apa-apa kalau hari ini kamu tidak kuat. Tidak perlu langsung “move on” atau “positive thinking” kalau hatimu masih remuk. Kerapuhan jiwa bukan tanda kelemahan, melainkan bagian alami dari menjadi manusia.
Feby dan Fiersa berhasil membuat pendengar merasa dilihat. Bukan lagi sendirian dalam kesedihan yang disembunyikan, melainkan ada jutaan orang lain yang juga sedang berjuang menahan air mata di balik senyum palsu. Itulah yang membuat lagu ini terus diputar ulang setiap kali seseorang merasa “runtuh” lagi.
Makna Kesehatan Mental yang Tersampaikan
Di balik nada mellow-nya, Runtuh menyentuh isu kesehatan mental dengan sangat halus. Ia menggambarkan depresi ringan sampai sedang: bangun tidur sudah lelah, memaki diri sendiri, tidak bisa mengubah masa lalu. Lagu ini mengajarkan bahwa menangis sekali saja bukan berarti menyerah, melainkan cara melepaskan beban yang sudah terlalu berat. “Beri ruang, beri waktu” jadi pesan lembut yang sering dilupakan orang ketika melihat teman atau keluarga sedang down.
Lebih dari itu, lagu ini mendorong penerimaan diri. Bukan lagi berusaha menjadi versi “kuat” yang palsu, melainkan belajar hidup bersama luka. Kerapuhan bukan akhir dari segalanya, tapi titik awal untuk pulih dengan cara yang lebih jujur.
Kesimpulan
Runtuh bukan sekadar lagu sedih, melainkan teman yang mengerti saat kita sedang rapuh. Ia mengingatkan bahwa boleh saja hancur sesekali, boleh menangis, boleh tidak langsung kuat. Di tengah dunia yang menuntut kita selalu tersenyum, lagu ini jadi pengingat bahwa kerapuhan jiwa adalah manusiawi. Justru dengan mengakui itu, kita mulai belajar menerima diri dan perlahan bangkit kembali. Setiap kali diputar, Runtuh seolah berbisik: “Kamu tidak sendiri.” Dan itu, pada akhirnya, yang membuat lagu ini abadi di hati banyak orang.